Mengawali tulisan ini dengan mengutip
Kisah perjalanan spiritual Nabi Musa AS bersama Nabi Khidir AS sebagaimana digambarkan dalam Al-Qur’an (Surah Al-Kahfi).
Adalah perjalanan mencari ilmu hakikat di luar syariat zahir, di mana Musa, seorang Nabi Allah rela menjadi murid Nabi Khidir AS yang diberi ilmu khusus (ilmu laduni) untuk belajar kerendahan hati, keikhlasan, dan pemahaman dan atau memaknai dibalik kejadian atau peristiwa, melalui tiga peristiwa kontroversial:
Yakni melubangi perahu, membunuh anak kecil, dan memperbaiki dinding rumah warga desa miskin, mengajarkan bahwa ada hikmah ilahi di balik hal yang tampak salah atau tidak adil.
1. Awal Perjalanan: Teguran dan Pencarian
Teguran Allah: Nabi Musa AS pernah merasa menjadi orang paling alim, lalu ditegur Allah SWT bahwa ada hamba-Nya yang lebih alim di pertemuan dua samudera (Khidir).
Perintah dan Tanda: Allah memerintahkan Musa untuk menemuinya, dengan tanda ikan yang akan hidup dan melompat ke laut di tempat pertemuan mereka.
Murid: Musa ditemani pemuda bernama Yusha’ bin Nun.
2. Tiga Peristiwa Ajaib (Ilmu Hakikat)
Melubangi Perahu: Musa keberatan karena dianggap merusak perahu milik orang miskin, padahal Khidir melakukannya agar perahu itu tidak dirampas raja jahat.
Membunuh Anak Kecil: Musa sangat terkejut dan menegur Khidir, padahal Khidir membunuh anak tersebut karena khawatir ia akan membawa orang tuanya pada kekafiran, dan ia berdoa agar diganti anak yang lebih baik.
Memperbaiki Dinding: Musa heran mengapa Khidir bersusah payah memperbaiki dinding rumah seorang warga desa yang kikir, padahal Khidir menjelaskan di bawahnya tersimpan harta untuk dua anak yatim, dan ia membangunnya agar harta itu aman saat mereka dewasa.
3. Akhir Perpisahan dan Pelajaran
Perpisahan: Setelah peristiwa ketiga, Nabi Musa terus bertanya hingga akhirnya Khidir memutuskan mereka harus berpisah sesuai janji awal, menjelaskan alasan di balik perbuatannya.
Hikmah Spiritual:
Kerendahan Hati: Nabi Musa belajar bahwa ilmu tidak terbatas pada syariat zahir, dan harus rela menuntut ilmu dari siapapun, bahkan yang “di bawahnya”.
Ilmu Hakikat vs. Syariat: Membedakan ilmu syariat (Musa) dan ilmu hakikat/laduni (Khidir), di mana Nabi Muhammad menyatukan keduanya.
Kebaikan dalam Kebaikan: Khidir menunjukkan perbuatan baik yang tersembunyi (memperbaiki dinding) dan perbuatan buruk yang mengandung kebaikan (membunuh anak).
Lalu bagaimana dengan pohon peneduh jalan di depan rumah jabatan Gubernur Sulawesi Tengah, sehingga membuat Dr. Anwar Hafid, M.Si selaku gubernur “murkah dan atau marah besar”?
Artinya jika kita memahami bahwa peristiwa penebangan pohon peneduh jalan itu mungkin petunjuk dari Allah SWT, jika kelak tubuh besar dan dibiarkan akan menimbulkan marah bahaya bagi siapa saja yang lewat di jalan itu.
Atau bisa saja mencelakai penghuni rujab, misalnya tumbang atau disambar petir sehingga pohon peneduh jalan itu patah dan menimpa makhluk Alla lainnya.
Apalagi masih cukup banyak pohon peneduh di depan Rujab Gubernur siranindi II jalan prof Mohammad Yamin itu. Kalaupun pohon penetuh jalan itu dibutuhkan sebaikanya diarahkan saja untuk diganti dengan pohon lain, lebih mudah tumbuh dan tidak perlu “murkah dan marah besar” karena hanya membuang – buang energy.
Sebab bagaimanapu pohon itu telah ditebang olehnya siapapun pelakunya kata bijaknya diganti saja dengan pohon lain, sehingga ada peremajaan pohon teduh di jalan M.Yamin kota Palu itu.
Sejak berita penebangan pohon peneduh jalan di depan rujab Gubernur sulteng tayang yang diblo up puluhan media online, elektonik dan cetak, berbagai tanggapan masyarakat muncul.
Ada yang pro, ada yang kontra dan ada pula yang terkesan meledek pernyataan Gubernur Anwar Hafid yang dianggap sebagai salah seorang pemimpin yang menyikapi segala sesuatu dengan bijak yang didasari kebesar hati dan tentunya ilmu Agama.
Apakah dengan sebatang pohon peneduh yang telah tumbang kita sebagai pemimpin harus bersitegang dan saling “melukai” hati dan perasaan?
Mendingan kita fikirkan bagaimana mencegah pohon-pohon dalam hutan ditebang habis demi cuan tambang emas, nikel dan biji besi.
Bayangkan saban hari hutan-hutan kita habis, gunung-gunung digunduli, perut bumi dibongkar, dan ancaman bencana alampun didepan mata.
Sementara masyarakat kebanyakan tidak mendapatka apa-apa, hanya mereka yang punya modal bersama orang-orangnya yang menikmatinya.
Sedangkan warga di lingkaran tambang hanya menerima akibanya dan atau dampaknya.
Dalam Al-Qur’an Sura Albaqara ayat 30 para Malaikat Allah SWT sudah memprotes penciptaan Kakek Moyang Manusia Nabi Adam, AS. Sebab para Malaikat itu menganggap kehadiran manusia hanya akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah di BUMI.
Dan memang hal itu terjadi, dimana-mana bencana alam, banjir, tanah longsor akibat penebangan pohon di hutan-hutan dan perut bumi digali serta di “hancurkan” demi cuan tambang emas, nikel, biji besi dan bebatuan lainnya.
Semoga saja dengan peristiwa penebangan pohon peneduh jalan di depan rujab Gubernur itu pemerintah baik pusat maupun daerah lebih tegas dan bijak mencegah penggudulan hutan dimana-mana demi cuan tambang. ***