Pagi itu Rabu (17/9-2025), saya melakukan perjalanan udara dari bandara Juwata kota Tarakan ke Surabaya.
Pesawat lion air yang saya tumpangi take off pada pukul 6:15 wit, sesuai jadwal yang tertara dalam tiket. Namun sempat mengalami molor sekitar 30 menit.
Penerbangan Tarakan Surabaya ditempuh kurang lebih 1 jam. tepat pukul 7:55 wita pesawat yang saya tumpangi mendarat di bandara udara International Juanda Surabaya.
Tiba Selamat di Bandar Udara Juanda Surabaya, rupanya harus menunggu kurang lebih 7 jam. Sebab penerbangan Surabaya Makassar ke Palu sesuai skedul ditiket harus menunggu hingga pukul 13:15, namun harus molor ke pukul 14:10 wita dengan alasan operasional, manajemen Lion Airpun harus minta maaf.
“iya biasalah Lion Air sering delay dengan alasan operasional, tapi mau bagaimana lagi, kita maklumi saja, karena tak ada jalan lain, kecuali sabar menunggu dan berdoa biar selamat dalam perjalanan dan tiba ke tempat tujuan kita,”kata kawanku punya teman yang searah perjalananku.
Surabaya ke Makassar ditempuh kurang lebih 1 jam. Siang itu cuaca cerah, matahari terik, membuat penumpang dalam kabin pesawat agak sedikit hangat.
Tepat pukul 15:45 pesawat lion air yang saya tumpangi dari Bandar Udara International Juanda mendarat di Bandara Udara International Sultan Hasanuddin.
Kurang lebih 5-10 menit suara dari balik mickrophone dalam kabin pesawat mengarahkan penumpang tujuan Makassar Sulsel turun melalui pintu bagian depan sebelah kiri dengan menggunakan trowongan yang bertuliskan Bukaka.
Sementara penumpang tujuan Palu diminta tetap dalam kabin pesawat. Karena pesawat Lion Air boung series 780 lanjut ke Palu.
Kurang lebih 1 jam menunggu dalam kabin pesawat dengan suhu agak panas sampai keringatan, baru penumpang Makassar tujuan Palu masuk ke dalam kabin.
Tepat pukul 17: 10 wita, pesawat lion air mulai bergerak hingga take off menuju bandar udara Mutiara Sis Al Jufri di Palu.
Diperkirakan 244 penumpang lion air termasuk 2 Pilot dan beberapa awak kabin dalam pesawat lion air tujuan Palu.
“Konektifitas antar bandara satu dengan yang lainnya mestinya menjadi perhatian pemerintah baik pusat maupun daerah. Sehingga perjalanan masyarakat dapat berbiaya hemat, efektif dan cepat,”kata temanku punya kawan.
Bayangkan dari Palu harus memutari dan mampir di dua bandara baru sampai Tarakan. Begitupun sebaliknya. Kita harus tiga kali pindah pesawat.
Makanya biayanya mahal disekitar Rp 2,8 juta hingga Rp 3 juta sekali perjalanan dengan 4 bandara mulai dari bandara ke berangkata, transif dua kali kemudian baru sampai bandara tujuan.
“Kalau dikali dua (pulang pergi=PP), maka biayanya dikisaran Rp,6 jutaan,”sebut temanku punya teman itu.
Tapi mungkin juga karena kurangnya penumpang dari bandara keberangkatan ke bandara tujuan, sehingga membuat penerbangan harus berputar di beberapa bandar udara.
Dan mestinya Palu Makassar ke Balik Papan lalu ke Tarakan atau Palu Balikpapa ke Tarakan begitupun sebaliknya.
Tapi tergantung manajemen Maskapainya, apalagi Bandar Udara Mutiara Sis Al Jufri sudah ditingkatkan menjadi Bandar Udara International dan harus dikelola oleh otoritas Angkasa Pura.
Semoga dengan status Bandar Udara International Mutiara Sis Al Jufri masyarakat dapat menikmati penerbangan berbiaya murah, cepat dan efisien. ***