
Hari itu Senin 13 April 2026, Sulawesi Tengah yang disebut Bumi Tadulako genap berusia 62 tahun. Usia yang lebih dari sekadar angka, ia adalah monumen perjalanan panjang sebuah provinsi yang kini tengah berderap kencang menuju kemajuan substansial.
Di bawah tema “Bersatu dalam Nawa Cita BERANI Menuju Sulteng Nambaso”, peringatan tahun ini bukan sekadar seremoni, melainkan proklamasi kebangkitan ekonomi dan integritas kepemimpinan yang nyata.
Walau baru setahun Anwar – Reny memimpin, namun ada kemajuan yang dirasakan masyarakat Sulawesi Tengah saat ini.
Duet ini telah membuktikan bahwa memimpin daerah seluas dan sekaya Sulteng memerlukan lebih dari sekadar panggung media sosial.
Diperlukan intelektualitas yang mumpuni, rekam jejak yang bersih, dan keberanian untuk berdiri di atas prinsip keadilan.
Wajar jika masyarakat menaruh harapan besar pada sektor pendidikan. Anwar dan Reny, dengan latar belakang pendidikan yang tinggi dan matang, memahami bahwa memutus “rantai kemiskinan dimulai dari bangku sekolah” yakni program Berani CERDAS.
Program Berani Cerdas bukan sekadar jargon politik, melainkan manifestasi dari pemahaman mereka bahwa kualitas sumber daya manusia (SDM) adalah modal utama pembangunan.
Ada perbedaan mendasar antara pemimpin yang terdidik secara akademis dan organisatoris dengan pemimpin yang sekadar mengejar citra.
Masyarakat kini kian cerdas menilai mana pemimpin yang hanya tampil apik di layar ponsel, namun abai di lapangan, dan mana pemimpin yang antara ucapan di media sosial dengan realitas sifat aslinya adalah sama, merakyat dan tulus.
Bagi Anwar-Reny, transparansi digital adalah cerminan integritas, bukan topeng pencitraan.
Salah satu bukti nyata komitmen mereka terhadap tata kelola yang baik adalah ketegasan dalam sektor sumber daya alam.
Anwar – Reny menunjukkan konsistensi luar biasa dalam menutup perusahaan tambang yang tidak taat asas. Ini adalah langkah berani yang jarang diambil oleh pemimpin yang hanya mencari aman.
Perlindungan terhadap lingkungan dan hak masyarakat adat ditegakkan di atas kepentingan oligarki yang melanggar aturan. Inilah esensi dari kepemimpinan yang berdaulat.
Keberhasilan ini tentu tidak lepas dari peran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemprov Sulteng. Para birokrat saat ini terbukti mampu menerjemahkan visi besar gubernur dengan sangat apik.
Lebih dari itu, akselerasi pembangunan di Sulteng selaras dengan program strategis Presiden Prabowo Subianto.
Harmonisasi antara kebijakan pusat dan daerah inilah yang menjadi motor penggerak utama menuju Sulteng Nambaso yakni Sulteng yang Besar dan Luar Biasa.
Mengingat kembali apa yang sering diungkapkan oleh tokoh senior kita, Bung Cudy (mantan Gubernur Sulteng), seolah menjadi kenyataan bahwa takdir Allah menempatkan Anwar-Reny untuk menakhodai provinsi ini.
Kombinasi kepakaran administratif Anwar dan keahlian manajerial-kesehatan Reny adalah jawaban atas kebutuhan zaman.
Rangkaian HUT ke-62 yang dimeriahkan dengan Sulteng Expo hingga promosi ekspor durian adalah simbol bahwa ekonomi rakyat sedang bergerak. Kita tidak hanya merayakan hari jadi, kita sedang merayakan keberanian untuk berubah.
Mari kita jaga persatuan ini, mendukung langkah-langkah berani pemerintah, demi mewujudkan Sulawesi Tengah yang lebih cerdas, lebih sejahtera, dan lebih bermartabat.
Selamat Hari Jadi ke-62 Provinsi Sulawesi Tengah. Bersatu kita berani, bersama kita Nambaso! Sumber radarpalu.***