Foto Andrianto Gultom. Ketua Pertukangan Indonesia Sulteng. Foto tangkapan layar di FB Andrianto Gultom/ikrapost.com
Oleh: Andri Gultom, Ketua Dewan Pertukangan Nasional Sulteng
Setiap tanggal 1 Juni, bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Sebuah momentum penting yang mengingatkan kita pada fondasi utama berdirinya negara ini.
Namun, di tengah berbagai tantangan yang dihadapi bangsa saat ini, peringatan Hari Lahir Pancasila seharusnya tidak berhenti pada seremoni, upacara, atau sekadar menghafal lima sila.
Yang jauh lebih penting adalah bagaimana nilai-nilai Pancasila benar-benar hidup dalam perilaku masyarakat dan kebijakan negara.
Pancasila lahir dari pergulatan pemikiran para pendiri bangsa yang menginginkan Indonesia berdiri di atas prinsip keadilan, persatuan, kemanusiaan, musyawarah, dan Ketuhanan.
Nilai-nilai tersebut bukan sekadar slogan, melainkan panduan moral dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Di tengah perkembangan zaman, tantangan yang dihadapi Indonesia semakin kompleks.
Kesenjangan sosial masih terjadi, konflik kepentingan sering mengalahkan kepentingan rakyat, dan tidak sedikit masyarakat yang merasa jauh dari keadilan yang dijanjikan negara. Dalam kondisi seperti ini, Pancasila harus hadir sebagai solusi, bukan hanya sebagai simbol.
Sila kedua, *Kemanusiaan yang Adil dan Beradab*, mengajarkan bahwa setiap warga negara memiliki hak yang sama untuk memperoleh perlakuan yang manusiawi.
Tidak boleh ada diskriminasi terhadap kelompok tertentu, termasuk masyarakat kecil yang menggantungkan hidupnya pada sektor-sektor ekonomi rakyat.
Sementara sila kelima, *Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia*, menjadi pengingat bahwa pembangunan dan kekayaan bangsa harus dapat dirasakan manfaatnya oleh seluruh lapisan masyarakat.
Negara harus hadir untuk melindungi dan memberdayakan rakyat, terutama mereka yang berada di garis depan perjuangan ekonomi keluarga.
Hari Lahir Pancasila juga menjadi momentum untuk memperkuat persatuan bangsa. Perbedaan suku, agama, budaya, maupun pilihan politik tidak boleh menjadi alasan untuk saling membenci.
Justru keberagaman adalah kekuatan terbesar Indonesia yang harus dijaga bersama.
Generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan nilai-nilai Pancasila. Di era digital yang dipenuhi arus informasi tanpa batas, generasi muda dituntut menjadi agen persatuan, penyebar optimisme, dan pelopor perubahan yang berlandaskan nilai-nilai kebangsaan.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan Pancasila bukanlah seberapa sering ia diucapkan dalam pidato, melainkan seberapa nyata ia dirasakan dalam kehidupan rakyat.
Ketika keadilan hadir, ketika persatuan terjaga, ketika kemanusiaan dihormati, dan ketika negara benar-benar berpihak pada kepentingan rakyat, saat itulah Pancasila hidup dalam makna yang sesungguhnya.
Momentum Hari Lahir Pancasila hendaknya menjadi pengingat bagi seluruh elemen bangsa bahwa Indonesia tidak dibangun oleh kepentingan kelompok tertentu, melainkan oleh cita-cita besar untuk mewujudkan masyarakat yang adil, makmur, dan bermartabat.
Sebab Pancasila bukan hanya warisan para pendiri bangsa, tetapi juga amanah yang harus kita jaga dan perjuangkan bersama untuk generasi yang akan datang. ***