Foto waka polda Sulteng Brigjen Pol.Helmi Kwarta Kusuma Putra Rauf. Foto bid humas polda Sulteng/ikrapost.com
“Ditakuti oleh Bandar Narkoba di NTB”
Om Doel (ikrapost.com)-Palu-Tampuk kepemimpinan Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah (Sulteng) segera memasuki babak baru.
Seiring dengan masa Purnabakti atau Masa Persiapan Pensiun (MPP) Irjen Pol. Dr. Endy Sutendy pada April 2026 ini, dikutip dari tulisan mantan Kepala Komnas Ham Sulteng Dedi Askary, SH, mengenai sosok pengganti yang tepat mulai mengemuka di tengah masyarakat Bumi Tadulako.
Nama Brigjen Pol. Dr. Helmi Kwarta Kusuma Putra Rauf muncul bukan sekadar sebagai pelengkap daftar bursa, melainkan sebagai kandidat terkuat yang memiliki ikatan batin dan profesionalisme mendalam dengan tanah kelahirannya.
Berikut adalah peluang sang “Putra Daerah” dalam menjaga estafet kepemimpinan di Polda Sulteng:
1. Rekam Jejak Reserse yang Mumpuni
Sebagai lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) 1993, Brigjen Pol. Dr. Helmi Kwarta adalah perwira yang dibesarkan di “kawah candradimuka” bidang Reserse.
Pengalamannya sebagai Wadirtipidum Bareskrim Polri menjadi bukti validitas kemampuannya dalam membedah perkara hukum yang kompleks.
Bagi Sulawesi Tengah—daerah yang memiliki dinamika keamanan unik, mulai dari isu sengketa lahan, tambang ilegal, hingga penegakan hukum yang humanis.
Kehadiran seorang ahli reserse di kursi Kapolda akan memberikan rasa aman sekaligus kepastian hukum bagi rakyat kecil.
2. “Pulang Kampung” dengan Amanah
Sejak 11 November 2024, Helmi telah menjabat sebagai Wakapolda Sulawesi Tengah.
Penunjukan ini seolah menjadi masa “orientasi strategis” baginya. Ia tidak perlu lagi meraba-raba peta kerawanan wilayah atau karakter sosial masyarakatnya.
Putra Asli Luwuk:
Lahir di Luwuk, Banggai, pada 8 Mei 1971, beliau memahami betul denyut nadi dan adat istiadat setempat.
Ada harapan besar dari masyarakat agar kepemimpinan Polda Sulteng dipegang oleh sosok yang mengerti bahasa rakyat, mengenal filosofi lokal, dan memiliki keterikatan emosional untuk membangun daerahnya sendiri.
3. Kontinuitas dan Stabilitas
Menggantikan Irjen Pol. Endy Sutendy memerlukan sosok yang mampu menjaga stabilitas yang sudah terbangun.
Sebagai pendamping (Wakapolda) saat ini, Brigjen Helmi adalah mata rantai terkuat untuk memastikan program-program strategis Polda Sulteng tetap berjalan tanpa hambatan birokrasi yang berarti.
Profil Singkat
Nama Lengkap: Brigjen Pol. Dr. Helmi Kwarta Kusuma Putra Rauf lahir di Luwuk Banggai 8 Mei 1971 (Usia 54 Tahun), Almamater: Akademi Kepolisian (AKPOL) 1993.
Berbagai jabatan strategis pernah diembannya ditubuh kepolisian RI. Sebelun menjabat Dirresnarkoba Polda NTB, Helmi pernah menduduku beberapa jabatan strategis.
Mulai dari Kapolres Bener Meriah Aceh tahun 2008, kemudian Kapolres Aceh Singkil tahun 2009. Selepas itu ia mengemban amanah menjadi Wadirreskrimsus Polda Kepulauan Riau tahun 2012.
Selanjutnya Dirreskrimum Polda Sulteng tahun 2016. Kemudian kembali ke Tronojoyo di Jakarta menjadi Tim Analis Bipdakt Pusiknas Bareskrim Polri tahun 2017.
Setelah itu Helmi menjabat sebagai Dirreskrimus Polda Kalimantan Utara tahun 2018. Lalu kemudian menjadi Dirresnarkoba Polda NTB.
“Ini yang ketiga kalinya saya jadi dir,” ujarnya saat berbincang-bincang dengan wartawan seperti dikutip di Radar Lombok.
Selama menjabat sebagai Dirresnarkoba Polda NTB, Helmi terbilang sukses. Sebab sudah banyak kasus narkotika yang diungkap dengan barang bukti berkilo-kilo gram.
Tahun 2020 saja barang bukti narkotika jenis sabu mencapai sekitar 14 kg. Jumlah ini merupakan yang terbanyak sepanjang sejarah Polda NTB berdiri.
Bandar narkoba yang selama ini dikenal licin tetapi tak berdaya di tangan Helmi. Buktinya sudah banyak bandar narkoba yang berhasil dijebloskan ke penjara.
Tak heran kemudian ia begitu “ditakuti oleh bandar narkoba”.
Helmi punya prinsip bahwa siapapun yang terlibat dengan bisnis gelap narkotika dirinya memastikan akan tetap mengejarnya hingga dapat menangkapnya.
“Mau sembunyi ke dalam batu pun akan kami kejar,” tegasnya.
Helmi mengaku bahwa dirinya tidak punya beban sedikit pun untuk menangkap semua yang terlibat narkoba.
Sebab apa yang dilakukannya demi menyelamatkan generasi bangsa. Jika apa yang dilakukannya selama ini membuatnya dicopot dari jabatan ia pun tak takut.
“Jabatan saya pertaruhkan,” ujarnya.
Hal itu ia ucapkan karena merasa miris dengan kondisi bangsa saat ini. Di mana penyalahgunaa narkotika semakin banyak.
Jika hal ini tidak diseriusi ia khawatir akan nasib bangsa kedepannya.
“Makanya saya selalu pesankan. Hai para bandar narkoba segeralah berhenti dari pekerjaan anda. Sudah cukup apa yang anda dapat saat ini. Sudah berapa orang kalian racuni. Berhentilah atau akan kami tangkap,” pesannya.
Selain kepada bandar narkoba, ia juga kerap berpesan kepada pembeking narkoba untuk bertobat. Sebab tak dapat dipungkiri bahwa banyak yang menjadi pembeking bandar narkoba di NTB ini.
“Mereka ini adalah pengkhianat negara dan suatu saat mereka pasti akan mempertanggungjawabkan perbuatannya,” ujarnya.
Lalu Akankah Brigjen Pol.Helmi jadi penerus Kapolda Sulteng? Mari kita coba Menakar Peluangnya ke Depan.
Secara normatif, penunjukan Kapolda adalah hak prerogatif Kapolri dengan pertimbangan Dewan Kepangkatan dan Jabatan Tinggi (Wanjakti).
Namun, melihat tren promosi di tubuh Polri saat ini yang sering kali memberikan ruang bagi putra daerah berprestasi untuk memimpin wilayahnya (local boy do good).
“Peluang Brigjen Helmi ini sangat terbuka lebar. Kenaikan pangkat menjadi Inspektur Jenderal (Bintang Dua) bagi Helmi Kwarta seolah tinggal menunggu waktu,”kata Dedi Askary yakin.
Menurutnya jika amanah itu tiba, rakyat Sulawesi Tengah tentu berharap di tangan dingin pria kelahiran Luwuk inilah, semboyan Polri *Presisi* dapat membumi dengan sentuhan kearifan lokal yang tulus.
“Menjaga Amanah di Tanah Leluhur
Transisi kepemimpinan dilingkungan Polda Sulteng pada April 2026, bukan sekadar pergantian tongkat estafet, melainkan harapan akan hadirnya sosok pelindung yang berwibawa namun tetap merakyat,”tutur Dedi lagi.
Kata Dedi adalah brigjen Pol Helmi Kwarta memiliki semua syarat untuk jabatan Kapolda Sulteng khususnya atau dan di Polda lainnya, yakni Integritas, Kapabilitas, dan Identitas.***