
Beberapa minggu terakhir di bulan Suci Ramadhan arus lalulintas jalan Ir.Juanda, simpang empat Sisinga Mangaraja, Veteran dan Mohammad Yamin macet total.
Adalah weekend night setiap sabtu malam dan minggu malam penyebabnya. Bagaimana tidak sebagian ruas jalan Mohammad Yamin ditutup total, sehingga terjadi “tumpukan” kendaraan terjebak macet di jalan Juanda, Sisinga Mangaraja dan Veteran.
Adalah penutupan sebagian ruas jalan M.Yamin tepatnya di pertigaan jalan Kartini, Balai Kota Selatan dan simpang empat jalan Juanda, Veteran, Sisinga Mangaraja, sehingga akses jalan para pengendara tertutup.
Iddrus salah seorang warga kota Palu mengeluhkan penutupan ruas jalan tersebut, sehingga mengakibatkan kemacetan total dari arah bawah Jalan Juanda, maupun dari atas Veteran dan dari arah Utara Sisinga Mangaraja dan dari arah selatan Jalan Mohammad Yamin.
“Mestinya jangan ditutup akses publik itu, tapi diatur dengan baik dan rapi, sehingga tidak hanya satu kelompok yang diuntungkan, sementara kelompok lain pengguna jalan dirugikan. Inikan hanya “menguntungkan UMKM sementara publik pengguna jalan itu di rugikan,”beber Iddrus dengan kesal.
Memang sejak pasca bencana alam gempa bumi, likuifaksi dan tsunami 9 tahun lalu, salah satu tempat tongkrongan favorit warga kota Palu khususnya pasangan muda mudi, kaum remaja laki-laki maupun perempuan, tua muda adalah lapangan vatulemo.
Apalagi sudah terdapat UMKM yang menjual menu kebutuhan para pengunjung. Mulai dari minuman segar, hangat, panas, kopi dan teh.
Memang tidak dapat dipungkiri berkat dukungan dan bantuan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) sekalipun itu bersumber dari hutang negara, pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan termasuk bangunan pasca bencana 28 September 2018 menunjukkan perbaikan yang cukup signifikan.
Beberapa diantaranya adalah ruas jalan Dewi Sartika, Mohammad Yamin, Komodo, Cut Mutia, Raja Moili, Jembatan 4 dan jalan Cumi-cumi atau biasa disebut Silabeta (Silae, Besusu dan Talise).
Keberhasila rehab rekon infrastruktur pasca bencana 28 September 2018 itu tidak terlepas dari kepedulian pemerintah pusat, provinsi dan kota Palu, sekalipun itu anggarannya bersumber dari pinjaman lunak dari bank dunia.
Selain itu pemulihan ekonomi dan penataan wajah kota Palu juga patut kita apresiasi kepada wali kota Palu Hadianyato Rasyid dan jajarannya pada periode keduanya ini.
Nampak kota Palu mulai bersih, bercahaya mulai dari pintu masuk lewat jalur bandara Mutiara Sis Al-Jufri maupun lewat darat dipintu masuk bagian barat tepatnya di kecamatan Ulujadi, sekalipun direcoki dengan kerusakan sebagian jalan nasional trans sulawesi akibat pertambangan galian C disepanjang pesisir Palu Donggala.
Namun ketika memasuki jantung kota tepatnya di ujung jalan Diponegoro terdapat tiang-tiang lampu jalan dengan ornamen batik khas Kaili (Donggala) membuat pemandang bagi yang melihatnya terkesan. Apalagi diwaktu malam hari.
Kemudian belok kiri sedikit ke ruas jalan Cumi-cumi tembus ke Raja Moili dengan melintasi jembatan 4 hingga ke ujung Komodo tembus di jalan Yos Sudarso atau lewat jalan lingkar luar Pantai Talise Teluk Palu nampak UMKM berjejer rapi diatas batu pemecah ombak atau penahan ombak yang dikerjakan PT.Adhy Karya dengan anggaran ratusan miliyar dari hutang negara sepanjang Silae, Besusu dan Talise (Silabeta) kurang lebih 5 kilometer semakin membuat suasana menarik.
Program kota bersih dan bercahaya (Bersinar) tentu tidak terlepas dari kesadaran masyarakat kota Palu membayar iuran sampah perbulan dengan nilai bervariasi mulai dari Rp, 35 ribu hingga Rp, 50 ribu bahkan Rp, 100 ribu tergantung wilayah dan kondisinya misalnya toko atau ruko serta volume sampahnya.
Dan jangan coba-coba buang sampah sembarangan, karena anda pasti didenda ratusan ribu bahkan bisa setuja rupiah. Perkembangan pembangunan dan ekonomi kota, tegasnya jangan hanya memikirkan dan menguntungkan satu kelompok saja, tapi harus semua warga kota Palu merasakan kenyamanannya.
Semoga saja weedkend Night Sabtu dan Minggu malam mendatang tidak ada lagi penutupan sebagian ruas jalan Mohammad Yamin karena mengganggu pengguna jalan lainnya. Karena itu akses publik. ***