Catatan Om Doel

Ia mengaku bernama Cindy Amelia Patner Bisnis Trading saya membawaku kedalam binis global ini.
Saya memulai bisnis trading ini pada Rabu 24 Desember 2025, Sekitar 17 perdagangan yang saya jalani jelang akhir tahun dan memasuki awal tahun.
Awalnya saya berdagang dari modal Rp, 1,000,000 (satu juta rupia) kemudian kami tingkatkan jadi Rp, 2,000,000 dengan hasil memuaskan.
Dari modal Rp, 2 juta itu naik menjadi Saldo akun saya saat itu adalah $251.01 yang setara dengan sekitar IDR 4.212.876,- dalam Rupiah Indonesia.
Dengan keuntungan saya saat itu dari modal Rp, 2 juta adalah $80.00, yang setara dengan sekitar IDR 1.342.696,- dalam Rupiah Indonesia
Komisi Konsultan kami adalah $80.00 x 30% = $80.00 yang setara dengan sekitar IDR 402.808., dan Alhamdulillah asset kami mencapai Rp, 3.083.190.067.
“Saldo Anda saat ini adalah $184,589.63 yang setara dengan sekitar IDR 3.083.190.067,- dalam Rupiah Indonesia, kurangi modal Rp, Rp, 921.782.074, sehingga keuntungan bersih sisa Rp, 2.155.228.155.
Untuk mencapai titik ini, bukan modal ludah dan paket data saja, tapi kami menggadaikan asset-asset kami sebagai modal agar dapat membayar komisi konsultan yang mengaku dari trading view global itu sebesar 30 persen disetiap keuntungan setelah berdagang.
Namun begitu, belakangan keuntungan awal yang bisa ditarik hanyalah pancingan, karena ternyata setelah saldo akun saya mencapai Rp, IDR 3.083.190.067 ternyata tidak bisa lagi ditarik dengan alasan harus membuat rekaning usdt dengan biaya 12 persen dari total saldo atau setara dengan Rp, 371 jutaan.
Adalah Vincent Wijaya SE., CFA, yang mengaku pembimbing atau konsultan trading saya itu seperti yang ditampilkan di akun aplikasi whatsAppnya. Namun ternyata mereka adalah jaringan “penipuan”trading.
Vincent Wijaya SE., CFA, mangaku, telah bekerja sebagai konsultan panduan transaksi keuangan selama 20 tahun, ia mengaku pertama bekerja sebagai analis data di Wall Street di Amerika, kemudian pergi ke Jerman untuk bekerja sebagai konsultan investasi.
“Tahun 2022, dana yang saya perdagangkan di bawah bimbingan saya sudah mencapai Rp, 3,6 triliun, saat ini dana transaksi yang saya pandu setiap hari juga 10 miliar. Saat ini tepatnya saya bekerja sebagai konsultan di layanan keuangan Octagon Advisors Pte Ltd di kawasan Asia Pasifik,”kata Vincent Wijaya SE., CFA dalam keterangan bujuk rayunya ke saya.
Vincent Wiajaya telah memperoleh sertifikat:
1. Chartered Financial Analyst (CFA)
2. Certified Internal Auditor (CIA)
3. Certified Management
Accountant(CMA)
4. Sertifikasi Akuntansi Syariah
Dalam panduan transaksi keuangan yang dikeluarkan oleh beberapa negara seperti Jerman, Amerika Serikat, dan Indonesia.
Jaringan trading penipuan ini menggunakan seorang wanita yang mengaku bernama Cindy Amelia bekerja di bank milik negara yakni BNI Mataram Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Vincent Wiajaya.
Saya berkenalan dengan wanita penipu itu lewat media sosial Platform Face Book sekitar seminggu, lalu lanjut ke whatsApp.
Wanita yang mengaku Cindy ini adalah wanita yang berkomplot dengan beberapa orang sesuai rekening tujuan yang katanya fee konsultan yakni
1. Rek bca 8011131212 atas nama Abdullah.
2. Rek BRI 001901183217505 atas nama Muhammad Farhan
3. Rek mandiri 1060021481588 atas nama Sunnah Pati
4.rek mandiri 1110025343316 atas nama muhammad restu illah.
5. Rek mandiri 1840012101463 Nur Khamid
Selain itu ada nama Lastro Gultom yang mengirimkan hasil perdagangan pertama dengan modal Rp 1,000,000 dan yang berhasil ditarik Rp, 1,300,094,00. Kemudian pergadangan selanjutnya dengan modal Rp, 2 juta, berhasil ditarik melalui transfer dari MHD.Dimas Maulan naik menjadi Rp, 4,212,031,00.
Perdagangan berikutnya selama 3 hari dengan volume perdagangan 9 kali yakni dalam 1 hari 3 perdagangan, aset melonjak terus dari Rp, 16,000,000 naik sampai IDR 3.083.190.067.
Namun setelah perdagangan usai saldo akun tersebut tidak bisa ditarik padahal fee konsultan telah dibayar dimuka yang jumlah mencapai ratusan juta rupiah.
Bayangkan untuk memperdaya korbannya mereka tidak ragu-ragu menggunakan sumpah kepada Allah SWT dan Rasul-Nya dan ayat-ayat Al-Quran.
Karena mereka bersumpah atas nama Allah SWT dan ayat-ayat Al-Quran sayapun mencoba peruntungan ini dengan mengikuti ajakan Cindy Amelia dan Vice itu, namun ternyata mereka adalah jaringan penipu kelas kakap di plaform trading view.
Kasus penipuan trading dengan janji memeberikan harapan keuntungan ini telah saya loporkan ke Direktur Ciber Polda Sulteng Jum’at lalu (9/1-2026).
Adalah penyidik brigpol Yanwar Morensza, SH yang menerima laporan/pengaduan saya itu. Dan diketahui atas nama Dit Ressiber perwira siaga Ipda Yohanis, SH.
Setelah dua sepekan laporan penipuan trading saya itu, pihak aparat kepolisian Ditressiber baru memberikan surat perkembangan penyedilidikan dengan memeriksa 3 orang saksi yang ikut mengetahui bahwa saya kena penipuan trading itu dan tahun mana trading palsu (penipuan) dan mana yang benar-benar trading.
Selain laporan ke polisi saya juga melaporkannya ke bank BCA cabang Palu dengan harapan rekening para pelaku dapat diblokir.
Semoga saja para pelaku yang mengaku trading view dengan nama tradvifintech.comini dapat segera ditangkap sehingga tidak membuat masyarakat resah.
Saya sangat berharap dengan laporan ke DitRessiber dan bca para pelaku ini dapat diungkap dan ditangkap dan diberi sanksi yang setimpal.
Sejak jaringan penipuan online dengan berbagai cara diantaranya trading palsu (anonim), yang berpusat di Phnnom penh Kamboja ini, sudah 36 warga negara Indonesia (WNI) yang berstatus ‘pekerja migran Indonesia bermasalah’ (PMIB) sektor online scam dari Kamboja dipulangkan ke Indonesia dari total
1.726 orang yang mendatangi KABRI Kamboja di Phnnom Penh itu.
Dikutip dari siaran pers Kementerian Luar Negeri (Kemlu), Sabtu (31/1-2026), pemulangan para PMI bermasalah ini merupakan hasil kerja sama Direktorat Pelindungan WNI (Dit PWNI) Kemlu dengan KBRI Phnom Penh.
Saat 36 PMI bermasalah ini tiba di Tanah Air pukul 20.10 WIB, mereka langsung diserahkan ke instansi terkait untuk ditangani dan didampingi.
Pemulangan 36 WNI ini merupakan pemulangan gelombang pertama di 2026.
Perwakilan dari Kemenkopolkam, KP2MI, Bareskrim Polri dan otorita bandara menyaksikan proses ketibaan para PMI bermasalah ini.
Sekarang sudah 1.726 WNI yang datang ke KBRI menyampaikan laporan bahwa mereka baru saja keluar dari sindikat penipuan online di Kamboja,” ujar Duta Besar RI di Kamboja Santo Darmosumarto, dalam Zoom Meeting bersama Kemlu RI, Kamis lalu (22/1-2026).
Santo menjelaskan kasus ini tidak hanya terjadi pada WNI, tapi juga warga negara lainnya. Hal itu disebabkan pemerintah Kamboja tengah gencar memberantas penipuan online di negaranya.
“Banyak sekali center-center yang akhirnya menutup operasinya, ketika menutup, maka para WNA yang bekerja pada operasi sindikat kemudian dibiarkan keluar, kemudian banyak di antara mereka berhamburan. Jadi ini bukan masalah eksklusif terhadap WNI, tapi ini masif,” ujarnya. ***