Goyangan mengagetkan membuat masyarakat Sulawesi Tengah “panik” Minggu Pagi 17 Agustus 2025 sekitar pukul 6 lewat 38 menit dan 53 detik.
“Kepanikan” itu bertepatan persiapan upacara bendera dalam rangka memperingati hari kemerdekaan ke 80 tahun Republik Indonesia ini.
Adalah Gempabumi dengan kekuatan Magnitudo 6.0, itu terjadi di barat laut Poso dengan jarak kedalaman sekitar 18 kilometer.
Berdasar update di situs resmi BMKG yang dilihat sesaat setelah gempabumi Poso itu, tidak berpotensi Tsunami.
Dan sejauh ini belum ada laporan kerusakan atau korban jiwa akibat gempabumi dengan kekuatan 6.0 Magnitudo itu. Tapi yang jelas membuat masyarakat “panik” khususnya warga Poso.
Goyangan gempa bumi di hari kemerdekaan 80 tahun RI itu dirasakan di wilayah Poso, Touna, Morowali, Morowali Utara, Parigi Moutong, kota Palu bahkan Luwu Timur Sulsel.
Semoga saja gempa bumi susulan nan dahsyat tak terjadi lagi di daerah ini, cukuplah gempa bumi, likuifaksi dan tsunami (gempa genit) 28 Septembar 2018 yang melanda Palu, Sigi, Donggala dan sebagian Parigi Moutong dengan kekuatan 7,4 Magnitudo.
Ribuan warga Pasigala meninggala dunia, kerusakan bangunan rumah, gedung kantor, infrastruktur jalan, jembatan dan irigasi dengan nilai triliunan rupiah.
Parahnya lagi setelah pemerintah pusat memutuskan untuk mengucurkan anggaran rehabilitasi dan rekonstrusi dari pinjaman lunak bank dunia dan sebagian hibah, malah diduga dikorupsi.
Baru-baru ini salah satu proyek pasca bencana gempa bumi, likuifaksi dan tsunami di Kabupaten Sigi dengan biaya fantastis yakni sekitar Rp, 79 miliyar disorot.
Adalah proyek Sabo Dam pasca bencana 28 Septer 2018 yang disorot itu. Diduga ada praktek kolusi, korupsi dan nepotisme (KKN) dibalik pengerjaan proyek pasca bencana alam gempa bumi, likuifaksi dan tsunami Pasigala itu.
Diduga proyek yang melekat di balai wilayah sungai sulawesi (BWSS) III Palu itu sarat akan dugaan KKN.
Bahkan kawanku punya teman menduganya dikerjakan orang dalam BWSS III sendiri dengan cara meminjam perusahaan asal bandung Jawa Barat dan berkolaborasi kontraktor Lokal Palu.
Proyek pasca bencana di Sigi itu perlu diselidiki aparar penegak hukum, baik Kejati, Polda maupun KPK, tinggal lembaga hukum mana yang lebih dahulu.
Kasihan negeri ini sudah 80 tahun merdeka tapi masih banyak oknum pejabat yang memanfaatkan mencari keuntungan sendiri dari penderitaan rakyat.
Semoga saja Allah SWT mengirimkan hamba-hamba-Nya yang terbaik mengusut tuntas dugaan korupsi proyek pasca bencana itu.
Dan diharapkan bencana alam terbesar di Sulteng itu cukuplah yang 28 September 2018 itu. Semoga Allah SWT merahmati kita semua, Amin Yarabbal Alamin. DIRGAHAYU RI KE 80 TAHUN, MERDEKA!!!. ***